Made Tri Ari Penia Kresnowati: Kembangkan stem cell dengan teknologi bioproses

on . Posted in News

Penia tidak pernah menyangka bahwa penelitiannya di bidang teknologi bioproses mendapat apresiasi dari dunia internasional. Keingingannya  bermula dari coba-coba tapi berujung pada hal yang spektakuler. Penelitiannya yang berjudul Teknologi Bioproses: Konsepsi Prototipe Bioreaktor untuk Pengembangan Stem Cell berhasil lolos dari ratusan proposal yang diajukan peneliti dari seluruh dunia di program L’Oreal-UNESCO for Woman in Science 2008 yang diselenggarakan L’Oreal dan UNESCO rutin setiap tahun. Program tersebut merupakan upaya menyatukan organisasi antarpemerintah dalam memberi kontribusi bagi kemajuan sains, terutama di kalangan perempuan.

Bioreaktor memang bukan barang baru bagi dosen di jurusan teknik kimia, Teknologi Industri ITB ini. Bedanya, kali ini Penia menggunakan stem cell guna memperbanyak sel tunas yang amat spesifik. Stem cell atau sel punca adalah sel yang belum terspesialisasi tapi dapat memperbanyak diri dan berdiferensiasi menjadi sel lain. “Saya ingin mencoba objek lain yang lebih rumit dan lebih menantang dan punya nilai ekonomis serta bisa terus dikembangkan untuk kemajuan dunia kesehatan,” tutur Penia kepada Inspirasi.Ir.

Peraih PhD bidang teknologi bioproses dari Universitas Delft, Belanda, ini mengaku bahwa stem cell tingkat kesulitannya lebih tinggi. Proses hematopoietic stem cell dalam bioreaktor berpotensi untuk meningkatkan ketersediaan jenis sel. Jika berhasil, selanjutnya proses ini akan bermanfaat untuk memproduksi sel-sel darah di luar tubuh.

Untuk memproduki sel darah merah dalam jumlah besar dan berkualitas, membutuhkan bioreaktor yang optimal. Tantangannya, Penia harus menemukan lapisan yang membuat sel terhindar dari trauma dan stres sehingga bioreaktor dapat tumbuh baik.

Kegunaan stem cell ke depannya diharapkan dapat mengatasi ketersediaan darah untuk transfusi. Penia memperoleh dana US$40.000 untuk pengembangan penelitiannya. Penelitian ini telah dilakukan di Monash University, Australia bekerja sama dengan para
pakar stem cell di Australian Stem Cell Centre dan beberapa pihak terkait di ITB. Penelitian ini memang memakan waktu cukup lama. Untuk untuk membuat konsep model alatnya saja diperlukan waktu dua tahun. Penelitian ini sangat visioner, namun membutuhkan waktu sekurang-kurangnya lima tahun untuk mempersiapkan produknya.

Selain itu, demikian ungkap peraih Anugerah IPTEK dari Menteri Negara Riset dan Teknologi RI untuk kategori Peneliti Wanita ini, proses bioreaktor stem cell juga menghabiskan dana yang tidak sedikit. “Proses stem cell itu mahal. Jika diimplementasikan di Indonesia perlu investasi yang sangat besar,” kata perempuan yang mendedikasikan hidupnya pada dunia riset ini.

Bioproses kelapa sawit

Kendati belum dapat merealisasikan program bioreaktor dari stem cell-nya, tidak menyurutkan hasrat perempuan yang sudah akrab meneliti sejak masih menjadi mahasiswa di Teknik Kimia ITB untuk mengembangkan kariernya di bidang penelitian. Sekembalinya dari Australia pada 2010, Penia memilih meneliti hal lain yang masih seputar pemanfaatan sistem bioproses.

“Saat ini saya sedang mengembangkan pengolahan limbah kelapa sawit menggunakan konsep biorefinery,” tutur isteri dari Wawan Dewanto, dosen jurusan bisnis manajemen ITB.

Penia merasa apa yang dia kerjakannya saat ini lebih dibutuhkan di Indonesia, mengolah limbah menjadi sesuatu yang punya nilai lebih. Perempuan berusia 36 tahun itu mengolah tandan kosong sawit menjadi gula rendah kalori, bahan bakar nabati bioetanol, dan lain-lain. Penelitian yang ditargetkan akan selesai pada awal tahun depan ini mendapat respon yang sangat positif, baik dari pemerintah maupun dari beberapa instansi terkait.

Saat ini Penia dan beberapa rekannya di Laboratorium Mikrobiologi Dan Teknologi Bioproses ITB sedang berupaya untuk membangun biorefinery sehingga dapat diproduksi melebihi skala laboratorium. Dengan konsep yang mulai berkembang sejak 10 tahun terakhir itu, Penia yakin dapat mengembangkan perekonomian Indonesia berbasis biomassa. “Dengan potensi kekayaan alam yang luar biasa, Indonesia seharusnya bisa leading,” ujarnya.

Sumber: http://www.inspirasi-insinyur.com

Share

Dowload Laporan Kegiatan BKKPII Tahun 2010 s/d 2012 : Laporan Kegiatan BKKPII