Masih sedikit yang melirik dunia teknik

on . Posted in News

Data Education at a Glance 2012 yang dipublikasikan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mengungkapkan persentase perempuan Indonesia lulusan pendidikan tinggi teknik yang memenuhi kualifikasi di bidang teknik, manufaktur dan konstruksi mencapai 51%. Angka itu tertinggi dibandingkan Jepang (33%), Perancis (30%), Brasil (28%), Australia (24%), Kanada (24%), Inggris (23%), AS (22%), Jerman (22%) atau Korea Selatan yang hanya 11%.

Di bidang pertanian pun persentase perempuan Indonesia lulusan pendidikan tinggi teknik pertanian yang memenuhi kualifikasi di sektor pertanian mencapai 52% dan masih bisa disejajarkan dengan Kanada (57%), Australia (55%), Perancis (55%), Jerman (54%) atau AS (51%) dan berada di atas Brasil (41%), Korea (39%) dan Jepang (38%) namun terpaut cukup lumayan bila dibandingkan dengan Inggris yang mencapai 66%.

Tingginya kualifikasi perempuan Indonesia untuk bekerja di bidang teknik itu nyatanya tak dibarengi dengan jumlah pekerja perempuan di bidang teknik yang terlihat masih minim. Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) 2011 lalu memperlihatkan bahwa pekerja perempuan sudah masuk di semua lini sektor pekerjaan.

Untuk sektor pertanian, kehutanan dan perikanan misalnya, di Papua sebanyak 74,65% perempuan bekerja di sektor ini. Sedangkan di Kalimantan Barat, NTT, Sumatera Selatan dan Sulawesi Barat persentasenya masing-masing 66,81%; 66,34%; 55,81%; dan 55,26%. Di sektor perdagangan, hotel dan restoran sebanyak 39,92% perempuan yang ada di DKI Jakarta menggeluti bidang ini. Disusul kemudian Kalimantan Timur (38,15%); Sulawesi Utara (37,22%); Jawa Barat (34,39%); dan Kepulauan Riau (33,24%).

Dari Sakernas BPS terlihat bahwa pekerja perempuan masih minim di sektor berbau teknik seperti pertambangan, konstruksi, transportasi dan komunikasi, juga di sektor listrik, gas dan air yang rata-rata berada di bawah 5%. Kaum perempuan menonjol di sektor sosial, jasa pribadi, perdagangan, hotel, restoran dan industri manufaktur.

Ada dugaan kuat perempuan berpendidikan sarjana teknik tak bekerja di bidang teknik karena merasa itu bukan dunia perempuan. Ada juga sebagian yang masih memegang ‘tradisi kuno’, dimana perempuan diposisikan sebagai konco wingking alias teman pelengkap yang posisinya harus berada di belakang pria. Dengan kualifikasi sebesar apapun di bidang teknik yang dimiliki kaum perempuan, jika stigma tersebut masih ada dan bahkan dipegang teguh, bangsa mungkin tak akan pernah melahirkan perempuan-perempuan hebat di bidang teknologi. Selain itu, isu diskriminasi terhadap pekerja perempuan yang masih terjadi juga mungkin menjadi alasan mengapa perempuan tak suka bekerja di bidang yang terkait dengan teknologi.

Belum lama ini Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) melakukan studi kasus mengenai keberadaan pekerja perempuan di Jawa Timur dan Sumatera Utara. Studi yang dipublikasikan awal tahun ini mengungkapkan bahwa pekerja perempuan di kedua provinsi itu sebagian besar masih berkutat di sektor informal. Banyak di antara mereka adalah pekerja rumahan atau menjadi pembantu rumah tangga. Kalau toh bekerja di sektor bisnis, skala usaha tempat mereka bekerja adalah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Dari jumlah itu, yang lebih mencengangkan lagi, sepertiganya tidak memperoleh upah.

Ada banyak fakta menarik dari studi ILO ini. Pertama, pekerja laki-laki cenderung dipekerjakan di luar rumah dan menjadi pencari nafkah utama. Kedua, pekerja laki-laki cenderung menerima Jamsostek daripada perempuan. Ketiga, pekerja laki-laki menerima  perlakuan baik di tempat kerja seperti lebih sering dipromosikan dibandingkan pekerja perempuan. Keempat, bonus yang diberikan perusahaan kepada pekerja laki-laki juga lebih besar. Kelima, laki-laki mendapatkan waktu  bekerja yang lebih lama dibandingkan perempuan. Laki laki  bekerja hampir sembilan tahun dan perempuan rata-rata lima tahun. Keenam, upah dan bonus pekerja laki-laki lebih besar dibandingkan pekerja perempuan.

Selain itu, yang tak kalah menarik, pekerja perempuan mempunyai  potensi untuk dilecehkan secara seksual di lingkungan kerja oleh laki-laki. Klaim bahwa pekerja perempuan di Indonesia telah diperlakukan sederajat dengan pekerja pria tampaknya hanya isapan jempol. Faktanya, diskriminasi tetap masih ada.

Untuk menggarap studi ini ILO bekerja sama dengan Universitas Tufts di Massachusetts, AS, dan melibatkan Universitas Brawijaya Malang serta Universitas Medan di Medan. Jumlah responden yang mereka sasar adalah 1.000 rumah tangga yang ada di Jatim dan Sumut.

Memang, studi kasus di kedua provinsi itu tidak bisa digunakan untuk mengeneralisir kondisi pekerja perempuan di Indonesia secara umum. Namun, studi ILO ini setidaknya bisa dipakai sebagai acuan awal untuk memotret bagaimana sesungguhnya persoalan pekerja perempuan di Indonesia.  Teks: Deddy H. Pakpahan

Sumber: http://www.inspirasi-insinyur.com

Share

Dowload Laporan Kegiatan BKKPII Tahun 2010 s/d 2012 : Laporan Kegiatan BKKPII