30 Persen Pabrik Tekstil Pakai Mesin Tua

on . Posted in News

Menteri Perindustrian Mohamad Suleman Hidayat mengungkapkan, sekitar 30 persen pabrik tekstil di Indonesia masih menggunakan mesin berusia lebih dari 25 tahun. Karena itu, untuk mendongkrak kualitas dan produktivitas, mesin pada ratusan pabrik tekstil tersebut harus diganti. "Dari sekitar 1.500 pabrik tekstil dan produksi tekstil, 500 pabrik di antaranya membutuhkan mesin baru," ujarnya kemarin.

Revitalisasi mesin pabrik tekstil, menurut Hidayat, sangat strategis untuk mendorong kualitas produk yang dihasilkan. Sayangnya, Indonesia masih mengimpor mesin tekstil dari Cina. "Padahal Cina itu saingan utama kita."

Menteri Hidayat menyebutkan, industri pengolahan non-migas merupakan sektor yang memberi kontribusi terbesar terhadap produk domestik bruto, yakni sebesar 20,74 persen. Adapun struktur industri pengolahan non-migas masih didominasi sektor industri makanan, minuman, dan tembakau sebesar 34,74 persen. Disusul sektor industri alat angkut, mesin, dan peralatan sebesar 28,28 persen serta industri pupuk, kimia, dan barang dari karet 12,51 persen.

"Industri pengolahan non-migas ditopang tingginya konsumsi dalam negeri meski rupiah melemah dan berdampak pada ekspor di negara-negara mitra utama," kata Hidayat. Pertumbuhan industri pengolahan non-migas pada semester I 2013 sebesar 6,85 persen.

Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Minardjo Halim menyatakan ekspor industri tekstil Indonesia pada 2013 ditargetkan mencapai Rp 13,4 miliar. "Ekspor tekstil Indonesia masih cukup andal," ujarnya.

Saat ini Indonesia masih mengekspor bahan baku tekstil ataupun garmen ke sejumlah negara, seperti Belanda, Italia, Jerman, Swedia, Amerika Serikat, Vietnam, Cina dan negara-negara Amerika Latin. Berdasarkan data ekspor terakhir yang diterbitkan Badan Pusat Statistik, realisasi ekspor tekstil Indonesia pada Juli 2013 senilai Rp 7 miliar.  Diananta P Sumedi

Share

Dowload Laporan Kegiatan BKKPII Tahun 2010 s/d 2012 : Laporan Kegiatan BKKPII